Kecerdasan Buatan (dalam bahasa Inggris: Artificial Intelligence,
disingkat AI), 10 tahun lalu mungkin masih jadi bahan guyonan di
masyarakat. Kini jika Anda menyadarinya, istilah AI menjadi tren dan
pionir di mana-mana. Istilah AI bisa dikatakan jadi kata kunci keren di
kalangan bisnis dan industri. Sementara bagi kawula muda, AI erat
dikaitkan dengan film-film fiksi sains semacam Ex Machina, dimana dalam
film tersebut muncul sebuah robot berbentuk menyerupai manusia.
Apa sebenarnya AI itu dan bagaimana cara kerjanya? Bagaimana sejarah
serta perkembangannya sejauh ini? Apakah AI bisa mengambil alih dunia
kita? Apakah ada etika/aturan khusus dalam pengembangan teknologinya?
Mari simak penjelasan dan ulasan selengkapnya!
Apa itu Kecerdasan Buatan?
Kecerdasan buatan adalah kecerdasan yang ditambahkan oleh manusia ke
dalam suatu sistem teknologi, diatur dan dikembangkan dalam konteks
ilmiah, bentukan dari kecerdasan entitas ilmiah yang ada.
Berikut ini adalah definisi kecerdasan buatan menurut para ahli:
Kecerdasan buatan adalah usaha memodelkan proses berpikir manusia dan mendesain mesin agar dapat menirukan perilaku manusia.
Kecerdasan buatan adalah tempat suatu penelitian, aplikasi dan
instrusksi yang terkait dengan pemrograman komputer dalam melakukan
suatu hal yang menurut pandangan manusia ⎼ cerdas.
Kecerdasan buatan adalah suatu studi mengenai bagaimana membuat
komputer mampu melakukan hal-hal yang pada saat ini masih bisa dilakukan
lebih baik oleh manusia.
Catatan:
Jadi intinya definisi AI dapat terus dikembangkan, namun poin
utamanya adalah bagaimana manusia menciptakan teknologi yang mampu
berpikir seperti manusia itu sendiri. Apa saja contoh kecerdasan buatan?
Simak lebih lanjut!
Jenis-jenis Kecerdasan Buatan
AI tak melulu berbentuk robot yang menyerupai manusia. Anda perlu
mengetahui apa saja jenis teknologi yang tergolong AI. Pada dasarnya,
ada 3 jenis, yaitu:
AI yang satu ini bekerja dengan simbol abstrak. Symbol-manipulating
AI termasuk jenis yang paling banyak eksperimennya. Inti eksperimennya
adalah manusia direkonstruksi pada tingkat yang hierarkis dan logis.
Informasinya diproses dari atas, lalu bekerjanya dengan simbol yang
dapat dibaca manusia/si pengembang, koneksinya abstrak dan hasil
simpulannya logis.
Jenis AI satu ini sangat populer di kalangan ilmuwan komputer pada
akhir 80-an. Dengan Neural AI, pengetahuan tidak direpresentasikan lewat
simbol, tetapi lebih ke neuron buatan dan koneksinya ⎼ semacam otak
yang direkonstruksi. Pengetahuan yang terkumpul nantinya dipecah menjadi
bagian-bagian kecil (disebut neuron) dan kemudian dihubungkan serta
dibangun menjadi kelompok-kelompok. Nah, pendekatan ini dikenal sebagai
metode bottom-up yang bekerja dari bawah. Tidak seperti
Symbol-manipulating AI yang pertama penulis jelaskan. Jadi, sistem
sarafnya harus dilatih dan distimulasi supaya jaringan saraf bisa
mengumpulkan pengalaman dan tumbuh supaya bisa mengumpulkan pengetahuan
yang lebih besar.
Neural Networks diatur ke dalam lapisan yang terhubung satu sama lain
lewat simulasi. Lapisan paling atas adalah lapisan input, yang
fungsinya seperti sensor. Sensor yang dimaksud adalah penerima informasi
yang akan memproses dan meneruskannya ke sistem. Ada setidaknya dua
sistem — atau lebih dari dua puluh lapisan dalam sistem besar — lapisan
yang tersusun secara hierarkis. Lapisan-lapisan itu yang mengirim dan
mengklasifikasikan informasi lewat koneksi. Di bagian paling bawah
adalah lapisan output, yang umumnya sih punya jumlah neuron buatan
paling sedikit.
Apakah Anda kesulitan memahaminya? Penulis akan memberikan penjelasan sederhananya:
Pada intinya cara kerja AI berdasar pada fondasi
machine learning . Arti machine learning apa? Artinya,
suatu sistem membangun pengetahuan dari pengalaman . Nah, proses itulah yang membuat sistem punya kemampuan buat mendeteksi pola serta aturan, secara cepat dan akurat.
Sejarah dan Perkembangan
Pembahasan sejarah AI tak bisa dilepaskan dari sosok John McCarthy.
Ia disebut-sebut sebagai “Bapak AI”, walaupun eksperimen terkait telah
ada sejak komputer diciptakan.
McCarthy mendapatkan gelar sarjana matematika dari California
Institute of Technology (Caltech) pada September 1948. Dari masa
kuliahnya itulah ia mulai mengembangkan ketertarikannya pada mesin yang
dapat menirukan cara berpikir manusia. McCarthy kemudian melanjutkan
pendidikan ke program doktoral di Princeton University.
Sedari sekolah, ia memang dikenal memiliki kepintaran diatas rata-rata. Berdasarkan
ulasan dari The Guardian , diketahui bahwa saat remaja McCarthy bahkan bisa menguasai pelajaran kalkulus tanpa bimbingan dari guru.
McCarthy kemudian mendirikan dua lembaga penelitian kecerdasan
buatan. Kedua lembaga AI itu adalah Stanford Artificial Intelligence
Laboratory dan MIT Artificial Inteligence Laboratory. McCarthy juga
merupakan dosen di kedua universitas ternama tingkat internasional
tersebut. Di lembaga-lembaga inilah bermunculan inovasi pengembangan AI
yang meliputi bidang human skill, vision, listening, reasoning dan
movement of limbs. Bahkan Salah satu lembaga yang didirikan itu,
Stanford Artificial Intelligence pernah mendapat bantuan dana dari
Pentagon untuk membuat teknologi-teknologi luar angkasa.
Bagaimana dengan Indonesia sendiri? Walaupun belum ada ilmuwan
Indonesia menghasilkan temuan kecerdasan buatan yang benar-benar diakui
di mata dunia, anak-anak muda semacam Digital Nativ ini terus berinovasi
dengan teknologi, bahkan memadukannya dengan unsur seni dan alam. Ingin
tahu siapa mereka dan apa saja yang mereka lakukan? Simak video
berikut!
https://youtu.be/j_cUWUwv1BQ
Dunia Diambil Alih oleh Kecerdasan Buatan (?)
Di bulan Juli tahun 2017 lalu, berita teknologi cukup dihebohkan dengan kabar bahwa
Facebook memberhentikan eksperimennya
setelah salah satu staf menemukan dua buah program AI mereka saling
berkomunikasi satu sama lain dengan bahasa ciptaan mereka sendiri yang
tak dimengerti manusia. Hanya kedua program itulah yang saling mengerti
pesan yang disampaikan ke satu sama lain.
Kengerian bahwa pengembangan AI mungkin akan setara dengan kecerdasan
manusia, bahkan melebihi kecerdasan manusia itu sendiri, juga bahwa ada
implikasi negatif AI terhadap kemanusiaan di masa depan ⎼ sebenarnya
tak hanya disuarakan orang awam. Ilmuwan yang diakui di dunia seperti
Stephen Hawking juga sempat berpendapat sama . Jadi, problematik dari AI ini tak sekadar ide bikinan dalam film-film fiksi sains semacam The Matrix.
Anda dapat menonton TED Talk dari seorang neuroscientist ternama Sam Harris, berikut ini:
https://youtu.be/8nt3edWLgIg
Dari video tersebut, kita mengetahui bahwa ada kemungkinan kita
sebagai manusia ⎼ pengembang AI lepas kendali dan AI jadi menyebabkan
kekacauan. Seperti yang Sam sampaikan, ini hal yang cukup masuk akal
untuk terjadi.
Mengapa? Anda tentunya sudah baca penjelasan penulis di bagian
Jenis-jenis Kecerdasan Buatan soal cara kerja AI. Dari situ kita
mengetahui bahwa atom-atom dalam AI dapat berkembang terus-menerus
hingga menghasilkan suatu pengetahuan yang benar-benar komprehensif dan
pada akhirnya sanggup juga menjalankan suatu aksi yang dianggap AI perlu
untuk dilakukan (berdasarkan pengetahuan yang dihimpun tersebut).
Walaupun demikian, ilmuwan tentu dapat mengontrolnya dengan
pengawasan super ketat. Nah, yang menjadi masalah adalah bagaimana
ilmuwan membatasi dirinya sendiri. Inilah mengapa suatu konsensus
terkait etika pengembangan AI perlu dipertimbangkan secara serius.
Jurnal Kecerdasan Buatan
Penulis menyarankan Anda untuk membaca kedua dokumen PDF berikut ini, untuk lebih memahami soal etika pengembangan AI:
Ini adalah Draft untuk Cambridge Handbook of Artificial Intelligence
yang ditulis oleh Nick Bostrom Eliezer Yudkowsky. Walaupun jurnal ini
dibuat pada tahun 2011, Anda bisa mendapatkan sudut pandang kritis
(dalam bahasa Inggris: insight) dari kalangan akademisi yang ingin
mewujudkan adanya konsensus soal etika pengembangan AI yang lebih jelas
dan terukur.
Tulisan ini dibuat sebagai hasil dari kesepakatan European Group on
Ethics in Science and New Technologies (EGE) pada bulan Maret tahun ini,
2018. Akan ada pertanyaan-pertanyaan kunci yang akan dibahas, disertai
dengan pembahasan soal kerangka pemikiran (framing) terkait etika
pengembangan AI.
Euforia AI di Sektor industri dan Nasib Tenaga Kerja
Seperti yang telah penulis sampaikan di pengantar artikel, sektor
industri akhir-akhir ini diwarnai dengan euforia menyambut AI.
Berita-berita bisnis lumayan banyak diwarnai kebanggan berbagai industri
dalam memanfaatkan teknologi canggih AI. Kalangan pekerja ikut bereaksi
terhadapnya, ada yang optimis AI tidak akan mengambil alih lahan
pekerjaan mereka, ada juga yang pesimis dan cenderung panik.
Mengapa para pekerja sampai panik? Contoh sederhananya pabrik roti
yang dahulu memakai tenaga manusia dalam mengemas roti, kini sudah tentu
bila produksi dalam jumlah besar memakai tenaga mesin. Tujuan teknologi
otomasi semacam itu memanglah akurasi dan efisiensi. Tapi tak sampai di
situ, dengan adanya pengembangan AI, robot-robot pintar mungkin
menggantikan pekerja di berbagai bidang pekerjaan.
Lalu kenapa? Ya dengan demikian, mata pencaharian manusia berkurang,
sumber penghasilan manusia juga berkurang. Tetapi, memang bisa saja
manusia-manusia pekerja mengerjakan hal-hal lain untuk mendapat
penghasilan. Sayangnya, kemungkinan besar, pekerjaan penggantinya bakal
membosankan dan upahnya rendah. Begitulah skema yang tergambar sekilas.
Lihat bagaimana keluarga Fukushima dari Jepang menghidupkan pekerjaannya, di video Great Big Story ini:
https://youtu.be/mnhELZjSVXo
Simpulan
Dengan membaca artikel ini, Anda dapat mengetahui pengertian AI,
sejarah dan perkembangannya. Tak hanya itu, kami juga telah menunjukkan
sudut pandang penulis soal bagaimana perkembangan kecanggihan teknologi
ini menjadi problematik. Bagaimana menurut Anda? Silakan menyampaikan
pendapat Anda di kolom komentar.
https://www.dewaweb.com/blog/kecerdasan-buatan/